Friday, June 23Magelang Online

Tari Badui Kesenian Khas Magelang

Sharing is caring!

Tari Badui telah berkembang di magelang sejak masa penyebaran islam di wilayah jawa tengah. Tari Badui memiliki peran sebagai media penyebaran ajaran islam khususnya di pulai jawa. Pemanfaatan badui sebagai media penyebaran islam ternyata dapat diterima oleh masyarakat secara baik, Saat ini tari badui telah menjadi kesenian dan tarian khas di magelang. Keberadaannya masih dipertahankan dengan sering dilibatkannya tarian ini dalam acara-acara yang bersifat lokal dan tradisional. Tari badui khas magelang lestari hingga saat ini dengan menjadi salah satu bagian penting dari warisan turun temurun nenek moyang.

kesenian badui khas magelangTari Badui merupakan jenis tarian rakyat yang menggambarkan suatu adegan peperangan atau serombongan prajurit yang sedang latihan perang. Dilihat dari cara penyajiannya, tarian ini termasuk tarian kelompok berpasangan.
Komposisi yang dipakai berbentuk barisan. Kadang-kadang membentuk dua barisan, kadang-kadang pula melingkar berhadapan. Fungsi dari kesenian ini di samping sebagai alat dakwah agama Islam juga merupakan tontonan yang eksotik bagi masyarakat.
Seni Badui yang kini masih hidup dan berkembang di daerah kabupaten Sleman kebanyakan berasal dari daerah Kedu, sedang di daerah Kedu sendiri juga merupakan kesenian rakyat yang semula dibawa oleh seseorang dari tanah Arab.
Seni Badui yang sekarang ini telah banyak mengalami perkembangan terutama di dalam lagu dan syairnya. Jumlah para pendukung pementasan kesenian Badui tidak tentu, Biasanya sekitar 40 orang dengan perincian 10 orang sebagai pemegang instrumen musik dan vokalis, sedangkan yang 30 orang sebagai penarinya.

Para penari membawa godo/gembel (senjata dan kayu).Vokal disampaikan dalam bentuk lagu dan dibawakan secara bergantian antara penari dengan vokalis, bersama dengan pemegang instrumen musik (saut-sautan, Jawa).Syair yang dibawakan ada yang diambil dari Kitab Kotijah Badui tetapi ada juga yang disusun sendiri, dan berisikan uraian tentang budi pekerti, kepahlawanan, persatuan/kesatuan dan lain-lain. Kesenian ini biasanya dipentaskan pada malam hari, selama kurang lebih 4,5 jam, mulai dari jam 20.00 hingga jam 00.30. Alat penerangan yang digunakan adalah lampu petromak.Ada kalanya pula tarian ini diselingi dengan pencak silat, dan dalam tarian pencak silat ini para pemainnya kadang ada yang dapat mencapai trance.Posisi kaki penari umumnya terbuka, sedangkan posisi lengan rendah dan tinggi. Konsep pentas yang digunakan ialah arena dengan desain lantai lingkaran dan lurus.nstrumen yang dipergunakan adalah genderang (tambur) satu buah, terbang genjreng 3 buah dan satu jedor.Kadang-kadang ditambah sebuah peluit yang berfungsi untuk memberi aba-aba akan dimulainya pementasan, pergantian posisi, maupun berhenti / selesainya pertunjukan.

Instrumen yang dipergunakan adalah genderang (tambur) satu buah, terbang genjreng 3 buah dan satu jedor/bedug. Kadang-kadang ditambah sebuah peluit yang berfungsi untuk memberi aba-aba akan dimulainya pementasan, pergantian posisi, maupun berhenti / selesainya pertunjukan.
Lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan Islami dan sholawat puji-pujian.

Source: guschemplon.blogdetik.com, Google.com

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *