Monday, October 15Magelang Online

Sungkem Tomplak: Tradisi Unik Dari Lereng Merbabu Magelang

Warga di daerah lereng Gunung Merbabu, Gejayan, Banyusidi, Pakis, Kabupaten Magelang mempunyai tradisi unik untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Jika warga payaman memiliki tradisi Lebaran Ketupat dan Festival Balon maka warga dikawasan ini setiap tahunnya mengadakan tradisi Sungkem Tomplak. Tradisi Sungkem Tomplak digelar warga setempat pada hari kelima Lebaran setiap tahunnya untuk mengirim doa untuk para leluhur serta memohon keselamatan, kesejahteraan dan kesuksesan kepada Tuhan.

tradisi magelang	tradisi kota magelang tradisi saparan di magelang tradisi di magelang tradisi masyarakat magelang tradisi nyadran di magelang 	04 tradisi kota magelang	pasar tradisional kota magelang 	 pasar tradisional kota magelang	pasar tradisional di kota magelang 	 tradisi saparan di magelang		 tradisi di magelang	tradisi saparan di magelang tradisi nyadran di magelang tradisi magelang tradisi yang ada di magelang 	 tradisi nyadran di magelang		 tradisi masyarakat magelang		 tradisi nyadran di magelang

Suara tabuhan gamelan riuh terdengar di sebuah dusun yang terletak di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebagai penanda hajatan besar sedang digelar. Ratusan warga termasuk anak-anak sibuk merias wajah mereka sebelum menjalani sebuah prosesi kirab.

Pada hari yang sangat istimewa ini warga mempersiapkan sebuah tradisi yang secara turun temurun diwariskan yaitu Sungkem Tomplak. Pesta rakyat dan ritual budata dilakukan tepat menginja hari kelima setelah Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi ini diceritakan berawal dari jaman dahulu ketika desa mengalami musim paceklik hebat yang ditandai dengan semau panen yang gagal serta kesulitan pangan. Dari kejadian ini warga lalu menggelar syukuran memohon kepada Tuhan agar bencana segera pergi dari desa mereka. Warga pun berdoa disebuah mata air yang diberi nama Tomplak yang dilanjutkan dengan mengadakan pesta kesenian rakyat untuk menolak bala.

Hingga saat ini tradisi ini tetap berjalan dan dipertahankan oleh generasi-generasi penerus dengan cara kirab budaya dari ujung desa menuju sumber air Tomplak yang berjarak sekitar 2 kilometer dari desa.

Menurut kepercayaan warga setempat tradisi ini tumbuh untuk menjaga kelestarian alam seperti menjaga kehidupan mata air. Tradisi unik ini menanamkan sikap kepada warga setempat untuk terus menjaga lingkungan dan tidak merusak alam sekitar. Selain itu tradisi Sungkem Tomplak juga dijadikan ajang silaturahmi antar warga.

Alunan gamelan yang tidak putus selama tradisi digelar serta mengiringi warga yang menggunakan kostum dan rias wajah. Urat nadi seni yang berada disetiap tubuh warga ditunjukkan dengan banyaknya kelompok seni tari di Dusun Gejayan, Pakis, Kabupaten Magelang. kesenian seperti jathilan, topeng ireng dan soreng menjadi hiburan yang selalu ada ketika warga menggelar acara.

imagesource: soloraya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *